Ziarah Pulau Penyengat

Kepulauan Riau (Kepri) mempunyai ratusan website bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan kebiasaan Islam dan Melayu di Nusantara. Salah satunya terdapat di Pulau Penyengat yang melulu berjarak selama 1,5 km dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang.

Ketika menginjakkan kaki guna kesatu kali di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pulau Bintan, semua pelancong bakal disambut oleh atmosfer Melayu yang kental. Mulai dari arsitektural khas, wewangian masakan bersantan yang mengunggah selera, sampai siswa sekolah yang mengenakan seragam khas busana Melayu.

Tidak jauh dari pelabuhan tersebut, ada ikon Kota Tanjung Pinang kekinian, Gedung Gonggong yang berbentuk gonggong (sejenis siput laut) terletak di Laman Boenda atau area Taman Tepi Laut. Gedung Gonggong itu adalahpusat informasi wisata dan kebudayaan Tanjung Pinang yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya pada medio 2016. Sepintas Gedung Gonggong ini mengingatkan anda pada Sydney Opera House di Australia.

Gedung Gonggong

Letak Gedung Gonggong tidak jauh dari Pelabuhan, dan berhadapan langsung dengan Pulau Penyengat yang adalahcikal akan dari kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Di Pulau Penyengat, terdapat website penting untuk perkembangan kebiasaan melayu serta website penyebaran Islam di pesisir Riau. Letak Pulau Penyengat tersebut melulu berkisar 1,5 km dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang.

Ziarah Pulau Penyengat

Pulau penyengat dapat dicapai menggunakan perahu motor dalam masa-masa 15 menit dengan harga tiket Rp 7000 per orang. Setibanya di dermaga Pulau Penyengat, masing-masing pasang mata bakal tertuju pada Masjid Sultan Riau yang didominasi warna kuning menyala dan tampak kontras dengan bangunan di sekitarnya.

Masjid Sultan Riau ini mempunyai desain arsitektural menarik bergaya persia dan turki dengan empat menara berbentuk kerucut, dan mempunyai tujuh pintu masuk serta enam jendela. Pada unsur atas masjid dan menara, ada 17 kubah dengan format menyerupai bawang yang menggambarkan 17 rakaat berdirinya shalat fardu sehari semalam. Berdasarkan keterangan dari sejarah, Masjid Sultan Riau ini adalahMasjid tertua di Indonesia yang mempunyai kubah di unsur atasnya.


Di halaman masjid ada Rumah Sotoh dan Balai pertemuan untuk jamaah. Masjid yang berdiri kokoh semenjak tahun 1832 ini, konon di bina menggunakan gabungan putih telur, kapur, tanah liat, dan pasir. Keberadaan masjid ini menjadi sentral pembelajaran Islam di Riau dan sekitarnya, bahkan masing-masing hari jumat dan hari-hari besar Islam, Masjid Sultan Riau ini selalu ditemui jamaah dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Tidak jauh dari Masjid Sultan Riau, ada makam raja-raja Riau yang masing-masing harinya tidak pernah sepi dikunjungi. Wisatawan yang datang ke Pulau Penyengat tidak melulu sekadar guna berfoto semata, tetapi pun untuk berziarah dan berwisata rohani dengan memahami sejarah Islam di Riau.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY