Mudik ke Solo tidak cukup asyik rasanya kalau melulu berdiam di rumah. Apalagi dalam keadaan #PesonaMudik2019. Terlebih andai waktu libur lumayan panjang. Daripada stay at home, mending refreshing sejenak dengan mengunjungi sekian banyak destinasi. Ada wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, atau mampir ke pasar guna sekadar cuci mata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Solo ialah salah satu wilayah tujuan wisata yang memiliki tidak sedikit atraksi atau destinasi. Meski kental dengan budaya, Solo ternyata pun punya sejumlah destinasi wisata alam yang pantas disinggahi.

Lantas, apa saja yang dapat dikunjungi ketika mudik ke Solo? Berikut 10 wisata populer di Kota Solo :

1. Grojogan Sewu

Wisata alam yang satu ini sedang di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Air terjun Gerojogan Sewu mempunyai tinggi selama 81 meter. Dinamakan Gerojogan Sewu sebab debit airnya lumayan besar. Walaupun musim kemarau, tetap saja volume air yang mengalir lumayan banyak.

2. Keraton Surakarta

Kraton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Kasunanan didirikan oleh Susuhan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744. Ini di bina sebagai pengganti Keraton Kartasura yang rusak dampak Geger Pecinan tahun 1743. Meski tersingkap untuk umum, ada sejumlah tempat yang tidak boleh ditembus wisatawan. Salah satunya lokasi tinggal Raja Pakubuwono.

Kita boleh masuk ke pendopo besar di dalam Sasana Sewaka. Tempat itu biasa dipergunakan untuk peragaan tari dan gamelan. Di sana pun ada museum dengan tidak sedikit koleksi kerajaan yang tersimpan. Seperti kereta kencana, tandu, patung, dan senjata kuno.

3. Taman Balekambang

Taman ini sengaja di bina oleh KGPAA Mangkunegaran VII atas kecintaannya terhadap sang putri. Yaitu GRAy Partini dan GRAy Partinah. Taman ini terbagi dua dan setiap diberi nama cocok dengan nama kedua putri tersebut. Satu taman mempunyai nama Partinah Bosch, yakni semacam hutan kota. Sedangkan taman berikutnya yaitu Partini Tuin yang merupakan empang air. Taman Balekambang mempunyai luas selama 9,8 hektare dan sedang di Jl. Ahmad Yani, Surakarta.

4. Kampoeng Batik Lawean

Kampung ini menjadi di antara pusat batik tertua di Kota Solo. Sebagian penduduknya berprofesi sebagai pembuat batik dan pedagang. Kampung ini telah menjadi ikon batik Solo semenjak abad ke-19. Hingga kini, lebih dari 250 motif batik khas Lawean telah dipatenkan.

Kampoeng Batik Laweyan tidak melulu berjualan batik, tetapi pun menawarkan paket wisata workshop menciptakan batik. Wisatawan dapat mengikut kursus membatik dalam masa-masa singkat. Ada pula pelatihan membatik secara intensif, khusus untuk yang hendak mendalami kiat membatik, baik tulis maupun cap.

5. Pasar Klewer

Ini adalah pasar tekstil terbesar di Jawa Tengah. Letaknya persis bersebelahan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pasar Klewer melayani transaksi ribuan saudagar dan pembeli masing-masing harinya. Tercatat terdapat 2.211 saudagar yang mempunyai kios dan 765 saudagar yang tidak mempunyai kios. Pasar ini pun menjadi ikon Kota Solo yang lebih modern. Pembeli di Pasar Klewer dapat mendapat potongan harga cukup besar bila melakukan pembelian barang dalam jumlah banyak.

6. Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran ialah istana yang megah dan estetis di Kota Solo. Nama Pura berasal dari bahasa Jawa yang berarti istana atau kerajaan. Pura Mangkunegaran menjadi pusat kebiasaan dan seni di Kota Solo. Berbagai koleksi berharga tersimpan di dalamnya, dan diandalkan berasal dari Kerajaan Mataram dan Majapahit.

Pura Mangkunegaran didirikan pada tahun 1757. Jika berangjangsana ke sini, wisatawan bakal ditemani seorang tour guide. Begitu menginjak pintu gerbang, wisatawan langsung mengarah ke pendopo bergaya Jawa-Eropa. Pendopo ini biasa dipakai untuk pertunjukkan tari dan wayang. Wisatawan juga dapat masuk ke Pringgitan, yaitu lokasi dimana family kerajaan tinggal. Termasuk ke lokasi penyimpanan benda-benda kerajaan.

7. Candi Cetho

Candi ini sedang di lereng Gunung Lawu. Tepatnya di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi Cetho berornamen agama Hindu, dan diduga dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit. Atau selama abad ke-15 masehi.

8. Candi Sukuh

Seperti Candi Cetho, Candi Sukuh pun berada di lereng Gunung Lawu. Tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi Sukuh berlatar belakang agama Hindu dan diduga dibangun didirikan pada akhir abad ke-15 masehi.

Diperkirakan, Candi Sukuh di bina untuk destinasi pengruwatan. Yaitu ritual mencegah atau mencungkil kekuatan buruk yang memprovokasi kehidupan seseorang. Dugaan itu didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan.

9. Pasar Triwindu

Pasar ini meluangkan barang-barang antik dengan situasi yang masih terjaga. Keunikan itu menjadiannya sebagai unsur dari wisata kebiasaan di Kota Solo. Wisatawan dapat menemukan perabotan vintage lucu dari masa lalu laksana kursi, lemari, gramofon, cermin, koin kuno, sepeda kuno, piring dan perabot lainnya.

Pasar Triwindu berdiri semenjak tahun 1939. Kepopulerannya ketika ini bahkan meluas sampai ke mancanegara. Terbukti, tidak sedikit turis asing yang singgah ke pusat perdagangan tersebut. Keunikan dagangan yang dijual, bisa jadi menjadi daya tarik untuk mereka.

10. Museum Batik Danar Hadi

Museum Batik Danar Hadi atau biasa pun disebut House of Danar Hadi mencakup bangunan megah yang berdiri salah satu rimbunnya pepohonan. Dari luar, keadaan tampak asri. Museum ini berdiri semenjak tahun 1967, dan konon mempunyai lebih dari 10.000 eksemplar kain.

Batik-batik yang dikoeksi banyak sekali adalahkoleksi individu dari H. Santosa Doellah. Ada pula batik-batik hasil lelang, pemberian dari sejumlah publik tokoh tenar, dan terdapat pula batik yang diciptakan di workshop Danar Hadi. Karena memiliki tidak sedikit sekali koleksi, museum ini pun masuk MURI.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY