Geowisata lubang Suro

Geowisata Tambang, dari Merusak jadi melestarikan…

Pertambangan dan pariwisata seringkali diibaratkan seperti minyak dan air, kedua unsur ini tidak bisa disatukan karena memiliki sifat yang bertolak belakang. Pertambangan memiliki sifat merusak lingkungan, sementara pariwisata memiliki sifat melestarikan lingkungan.

Daerah pertambangan selalu diidentikan dengan daerah yang rusak, jauh dari kesuburan tanah, dan tidak layak untuk ditinggali bahkan untuk menjadi daerah pariwisata. Sedangkan pariwisata selalu identik dengan keindahan alam dan dapat menarik wisatawan berkunjung.

Namun perlahan pemahaman itu mulai tergerus dengan munculnya konsep Geowisata. Sebuah konsep wisata yang berfokus pada melestarikan bumi dan isi di dalamnya serta melibatkan komponen masyarakat setempat bergabung memberikan pengalaman yang otentik dan berbeda bagi wisatawan, karena diharapkan wisatawan yang datang dapat merasakan langsung petualangan di dalamnya dan melibatkan dirinya dalam upaya pelestarian kawasan tersebut.

Seperti yang terdapat di Sawahlunto bernama Lubang Suro. Objek wisata yang cukup terkenal di Sumatera Barat ini merupakan daerah tambang batubara pertama di sana yang dibangun sekitar tah 1898 ketika penjajahan Belanda. Asal muasal kata suro berasal dari nama “mandor” atau seorang komando dari banyaknya buruh paksa yang dikenal “orang rantai” bernama Mbah Suro.

Geowisata Lubang Suro

Panjang dari lubang ini aslinya bisa mencapai puluhan kilometer, namun pada tahun 1932 lubang ini ditutup dengan alasan tingginya rembesan air. Pada tahun 2007, lubang ini dibuka kembali dengan tujuan sebagai objek wisata di Sumatera Barat dengan panjang lubang terowongan mencapai 186 meter.

Beralih ke Indonesia Tengah, ada daerah pertambangan yang berpotensi menjadi kawasan geowisata yang menarik, Tambang Batu Hijau namanya. Tambang ini layak menjadi kawasan geowisata karena bukan saja kawah lingkar tambangnya saja yang bisa dikunjungi, namun wisatawan bisa melihat bagaimana alam sekitar tambang dan aktivitas pertambangan secara langsung.

Geowisata Tambang Batu Hijau

Memang Geowisata Tambang Batu Hijau masih terkesan eksklusif, karena hanya dibuka pada hari selasa karena aktivitas pertambangan di hari itu tidak terlalu banyak, sehingga pengunjung yang datang masih terbatas.

Ke depannya, Tambang Batu Hijau akan terus mencoba menarik wisatawan lebih banyak berkunjung ke sana terutama wisatawan mancanegara. Terbukti akan dibangunnya Museum Geologi di Mataram yang akan diarahakan ke Tambang Batu Hijau untuk mendukung Geowisata di sana.

Dua dari banyaknya daerah pertambangan di Indonesia menjadi contoh bahwa tidak selalu pantai dan pegunungan yang dapat menjadi daerah wisata. Karena nilai historis, pengalaman menelusuriny dan keindahan berbeda juga bisa didapatkan di
Geowisata Tambang Suro Sumatera Barat dan Tambang Batu Hijau NTB

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY