Tempat Obyek Wisata Alam di Provinsi Aceh Indonesia

Tempat Obyek Wisata Alam di Provinsi Aceh Indonesia

Berikut beberapa tempat obyek wisata alam di Provinsi Aceh yang bisa anda kunjungi di waktu liburan Anda:

1. DANAU LAUT TAWAR

Danau yang memiliki panjang 26 KM dan lebar 5 Km serta kedalaman 50 meter. Danau ini dikelilingi oleh perbukitan yang memiliki lereng yang sangat curam dan juga sebuah gunung berapi Burni Telong dengan ketinggian 2500 meter. Danau ini di sebut Laut Tawar karena luasnya seperti lautan tetapi airnya tawar tidak asin seperti air laut.

Lokasi :

Ke Kota Takengon bisa di tempuh melalui kota Bireun dengan Elf, sekitar 5 jam perjalan.

2. DANAU ANEUK LAOT (Anak Laut)

Luas danau mencapai 37,3 hektar. Di dekat danau ini terdapat sebuah bukit di mana
dari atasnya dapat melihat pemandangan ke arah pelabuhan dan Teluk Sabang. Danau ini juga menjadi sumber kebutuhan air tawar di kota ini. Berada di tengah Kota Sabang.

Lokasi:
Bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

3. SUNGAI ALAS

Banyak digunakan wisatawan
untuk kegiatan olah raga arung jeram .Penggemar olah raga arung jeram dapat
mencoba keganasan Sungai Alas yang mengalir menuju Kabupaten Aceh Selatan  sambil menikmati panorama  keindahan alam hutan tropis Aceh dan perkampungan rakyat tradisional.

Lokasi :
Terletak sekitar 165 km arah Tenggara Kota Takengon.

4. AIR TERJUN SUHOM

Berada di tengah-tengah pemandangan alam yang indah dan alami. Di sekitar obyek wisata Alam Air Terjun Suhom ini banyak terdapat pohon durian, sehingga jika musim  durian datang banyak yang berjualan durian di sekitar lokasi air terjun. Di kawasan ini juga tersedia lokasi untuk perkemahan.

Lokasi:

Bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat dari Banda Aceh, sekitar 1 jam perjalanan.

5. AIR TERJUN TUJUH TINGKAT

Dinamakan tujuh tingkat karena sesuai dengan
jumlah tingkatan yang ada pada air terjun ini yaitu tujuh tingkat. Terletak di Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun, Kab. Aceh Tamiang.

Lokasi: 

Jaraknya sekitar 60 Km dari Ibu Kota Kabupaten. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor.

6. PANTAI LHOK NGA

Pantai yang memiliki panorama alami. Di sepanjang pantai berpasir putih ini pengunjung
dapat menjumpai beragam karang putih dan keong. Ombak pantaiyang stabil dengan ketinggian rata-rata tiga meter menjadi tempat yang ideal untuk berselanjar. Jika ingin berenang harus  memperhatikan rambu-rambu yang dipasang karena di beberapa titik terdapat pusaran arus yang kencang .

Lokasi;

Dari Banda Aceh ke lokasi bisa ditempuh dengan kendaraan umum sejauh 22 km. dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.

Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia

Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia

Sejarah pariwisata Indonesia lebih panjang daripada usia Republik. Ketika Indonesia diproklamasikan, 17 Agustus 1945, beberapa destinasi wisata sudah relatif dikenal luas. Ini berkat didirikannya semacam dewan perjalanan wisata, Vereeniging Toeristenverkeer (VT) pada 1910 di Batavia (lihat Dieny Ferbianty, Sejarah Pariwisata Indonesia, Program Magister, ITB, Bandung, 2007). Dan VT membuat buku panduan wisata India-Belanda pertama kali, dalam bahasa inggris, isinya tentang daerah wisata di Jawa, Bali, Lombok, Sumatra, Toraja (Sulawesi Selatan).

Pariwisata Hindia-Belanda makin popular di kalangan orang Eropa, meruang setelah terbit koran mingguan tentang pariwisata, Java Tourist Guide, 1923. Selain artikel tentang daerah wisata, koran ini juga menginformasikan perjalanan kereta api, tentang hotel, dan ada juga semacam pelajaran praktis bahasa lokal. Beberapa hotel pun menerbitkan panduan wisata untuk satu situs, misalnya, panduan wisata Pegunungan Dieng, panduan wisata Jawa Barat, dan lain-lainnya.

Sejarah Pariwisata Indonesia
Sejarah Pariwisata Indonesia

Boleh dikata prasarana wisata ketika itu lengkap sudah: ada dewan wisata tingkat “nasional” yang memiliki cabang di sejumlah daerah, ada media wisata, hotel, asosiasi turis – Misalnya Asosiasi Turis Garut, Asosiasi Turis Magelang (lihat Dieny Ferbianty: 2007). Biro perjalanan yang menawarkan tour pun bermunculan sejak itu.

Namun semua itu berantakan begitu Jepang menjajah Indonesia. Penjajah dari Asia ini seperti hanya memiliki satu tujuan: memenangkan Perang Pasifik. Karena itu segala sesuatu dimanfaatkan untuk prasarana perang, termasuk kesenian yang dijadikan proganda Asia Timur Raya, termasuk. dunia wisata dengan antara lain mengubah hotel menjadi rumah sakit bahkan asrama tentara.

Zaman bergerak dari Republik Indonesia berdiri.Meski ketika itu di republik baru ini penuh perjuangan sehubungan agresi Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali dengan cara menumpang Sekutu, pemerintah tak melupakan pariwisata. Pelan-pelan semuanya dipulihkan dari perhotelan sampai transportasi, dari organisasi sampai sekolah wisata.

Sebuah peristiwa MICE, khususnya conference, bisa dibilang langsung atau tak langsung merangsang perkembangan dunia wisata Indonesia: Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Paling tidak panitia konferensi ini mestinya membawa delegasi-delegasi ke beberapa situs wisata di sekitar Bandung. Yang jelas, setelah Konferensi ini berdirilah Yayasan Tourisme Indonesia, lembaga nirlaba yang bertujuan menggairahkan dunia wisata Indonesia lewat segala jalan: kerjasama dengan pers, dengan lembaga wisata Negara lain, dengan pihak imigrasi dan beacukai, dengan kementerian luar negeri. Semua kerja sama bertujuan mempermudah hal-hal yang berkaitan dengan turisme, misalnya urusan visa.

Sewindu kemudian, 1963, urusan wisata dimasukkan ke dalam lembaga struktural, menjadi bagian dari kementerian perhubungan darat, pos, telekomunikasi, dan pariwisata. Pada tahun inilah Indonesia pertamakali menjadi tuan rumah PATA (Pacific Asia Travel Association). Selanjutnya dunia wisata diurus oleh pejabat struktural, dengan atau tidak dicantumkan kata “pariwisata” dalarm kementerian.

Pada 1988 pariwisata berada di depan dalam kementerian pariwisata, pos, dan telekomunikasi. Dan pada tahun 2000 pariwisata disatukan dengan kebudayaan menjadi kementerian kebudayaan dan pariwisata. Perlu dicatat, meski destinasi wisata terkait dengan geografi, kebijakan dalarn perwisataan tak terpengaruh oleh pembagian provinsi yang berubah-rubah. Pada 1945 Indonesia hanya dibagi dalam delapan provinsi ‘ (Sumatra, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa timur, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku). Kemudian provinsi dimekarkan dari tahun ketahun. Pada 1950 ada 11 Provinsi; pada 1956, 15; pada 1957, 17; pada 1958, 20; pada 1959, 20; pada 1960, 21; pada 1967, 25; pada 1969, 26; pada 1976, 27; pada 1999, tetap 27 propinsi (Timor Timur Merdeka, dan Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara); pada 2000,32; dan pada tahun 2002, 33 provinsi.

Pariwisata Indonesia

Lalu apa tantangan wisata di Negara kepulauan terbesar diduniai ini? Indonesia terdiri dari lebih 13.466 ribu pulau, dengan pantai total lebih dari 6.360 km. dari Sabang sampai Merauke adalah lebih dari 1.120 suku bangsa. Ini sebuah kekayaan tak terkira sehubungan dengan wisata bahari dan budaya. Ditambah bukit dan pegunungan, wisata alampun tertebar luas. Dengan harta seperti ini sesungguhnya tinggal mas’alah manajemen dan kerja keras untuk menjaga, mengatur, mengembangkan, dan mempromosikan pariwisata Indonesia ke segala penjuru. Sehingga hal yang dirumuskan oleh Dewan Pariwisata Nasional pada 1969 bisa dicapai. Dewan Pariwisata merumuskan antara lain pariwisata untuk “menghasilkan devisa dan pendapatan masyarakat, kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, dan mendorong usaha industri lainnya,” juga untuk “meningkatkan persahabatan dan persaudaraan nasional dan internasional.”

Tempat Wisata Sejarah Masjid Agung Demak

Tempat Wisata Sejarah Masjid Agung Demak

Bicara tentang Demak, tentu identik dengan Masjid Agung Demak yang menjadi ikon kabupaten ini. Sebagai masjid tertua di Pulau Jawa, Masjid Agung Demak dipercaya memegang peranan penting dalam perkembangan Islam di tanah air. Pasalnya, masjid ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para Wali Songo yang menyebarkan Islam di Demak.

Masjid tua yang dibangun pada 1477 oleh Raden Fatah bersama Wali Songo ini, berlokasi di pusat Kota Demak. Hanya berjarak 26 km dari Semarang, 25 km dari Kudus, 30 km dari Grobogan, dan 35 km dari Jepara – Jawa Tengah.

Pembangunan Masjid Agung Demak melalui tiga tahap.Tahap pertama dilakukan pada 1466 ketika masjid ini masih berstatus Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada 1477, masjid dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. 

Setahun kemudian, ketika Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan tiga trap. Masjid yang hampir keseluruhan materialnya menggunakan kayu jati ini memiliki luas sekitar 31×31 meter persegi, dengan serambi terbuka berukuran 31×15 m.

Masjid ini juga memiliki bedug raksasa berukuran 3,5×2,5 m, dan tatak rambat berukuran 2,5×3 m . Keseluruhan, masjid ini ditopang 128 soko atau tiang dan 94 tiang penyangga. Pada bagian tengah atap masjid ditopang empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat langsung oleh empat orang Wali Songo. Tiang di sebelah tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, sebelah barat daya oleh Sunan GunungJati, dan sebelah barat laut dibuat Sunan Bonang. Sedangkan tiang di sebelah timur laut tersusun atas beberapa balok sumbangan Sunan Kalijaga yang diikat menjadi satu.

Menilik arsitekturnya, Masjid Agung Demak ini mengusung gaya arsitektur tradisional dengan atap berbentuk lima persegi. Kesan megah, anggun, sekaligus karismatik tampak nyata melalui arsitektur masjid ini. Atap limas pada masjid ini tersusun atas tiga tingkat yang bermakna seorang beriman harus menapaki tiga tingkatan penting dalam kehidupan rohaninya, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Masjid Agung Demak juga telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO semenjak tahun 1995.

TEMPAT WISATA SEJARAH : MASJID SULTAN SURIANSYAH

TEMPAT WISATA SEJARAH : MASJID SULTAN SURIANSYAH

Masjid bersejarah Sultan Suriansyah ini, dibangun pada 1526-1550 di masa pemerintahan Sultan Suriansyah. Kerap disapa dengan nama Masjid Kuin, masjid ini merupakan satu dari tiga masjid tertua di Banjarmasin. Berlokasi
di Kelurahan Kuin Utara, Masjid Kuin memiliki luas bangunan sekitar 26,1×22,6 m,dengan luas tanah mencapai 30×25 m. Masjid
yanng terletak di tepi Sungai Kuin tersebut, mengusung arsitektur tradisional Banjar dengan konstruksi panggung dan atap tumpang.

Masjid Kuin memiliki dua inkripsi seluas 50×50 em yang terpahat pada daun pintu utama yang disebut dengan Lawang Agung. Di sebelah kanan terdapat inskripsi Arab-Melayu bertuliskan “Ba’da hijratun Nabi Shalallahu ‘alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu nganan Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia.” Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terpahat berbunyi “Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya’ban tatkala itu…” . Kedua inskripsi tersebut menunjukan bahwa pembuatan Lawang Agung dilakukan pada Senin, 10 Sya`ban 1159, oleh Kiai Demang Astungkara.

Melongok bagian dalam masjid, pola ruang tampak mendompleng pola Masjid Agung Demak yang mengusung arsitektur Jawa-Hindu. Hal tersebut terlihat jelas pada tiga bagian dalam masjid, yaitu bagian atap meru yang merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali, ruang keramat atau cella, dan tiang guru yang mengelilingi cella.

Sebagai pelengkap interior masjid terdapat kayu ulin pada mimbar bertuliskan kaligrafi Arab berbunyi “Allah Muhammadarasulullah“. Pada bagian kanan atas terdapat tulisan “Krono Legi: Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal17“, sedang pada bagian kiri dalam masjid terdapat tulisan “Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri“. Artinya, pembuatan mimbar tersebut dilakukan pada Selasa Legi, 17 Rajab 1296, atas nama Haji Muhammad Ali.

Berusia sekitar 486 tahun, masjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Di antaranya pada 1976, oleh Kodam X Lambung Mangkurat. Dilanjutkan dengan pemugaran kedua, pada 1978 dengan tidak mengubah arsitektur awal.

Tidak jauh dari Masjid, kita juga dapat melihat Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Masyarakat banyak yang datang untuk berziarah ke makam ini, apalagi pada hari-hari libur. Dikomplek makan ini juga terdapat sebuah museum kecil tempat menyimpan peninggalan sejarah kerajaan Banjar.

Lokasi Temapat Wisata Sejarah Masjid Sultan Suriansyah:

Masjid Sultan Suriansyah ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Akses ke okasi Temapat Wisata Sejarah Masjid Sultan Suriansyah:

Untuk menuju Masjid Sultan Suriansyah, pengunjung dapat menempuh dua jalur, yakni jalur darat dan jalur sungai. Untuk jalur darat pengunjung dapat menggunakan moda angkutan umum seperti angkutan kota maupun taksi. Arah yang dituju dengan moda ini adalah Masjid Sultan Suriansyah . Dengan moda angkutan darat ini, pengunjung dapat berhenti tepat di depan masjid.

Jalur lain yang dapat digunakan wisatawan adalah jalur sungai. Dengan jalur ini, pengunjung dapat menikmati suasana aliran sungai yang tersebar di Kota Banjarmasin. Moda yang digunakan dengan jalur ini adalah perahu bermotor tradisional yang bernama klotok. Dengan klotok ini, pengunjung juga dapat berhenti tepat di depan masjid.

Wisata Religi : Masjid Wapauwe Ambon

Wisata Religi : Masjid Wapauwe Ambon

Masjid yang awalnya bernama Wawane ini, dibangun pada 1414 oleh Perdana Jamilu, seorang keturunan Kesultanan Jailolo, Moloku Kie Raha (Maluku Utara), Awalnya, pria ini datang ke Tanah Hitu pada 1400 untuk menyebarkan Islam di sekitar Pegunungan Wawane, di antaranya Desa Assen, Wawane, Atetu, Tehala, dan Nukuhaly.

Pada tahun 1464, Jamilu melakukan sedikit renovasi pada masjid ini tanpa mengubah struktur aslinya. Pada 1614, Masjid Wawane dipindahkan ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km dari Desa Wawane, Pemindahan tersebut dilakukan untuk menghindari gangguan Belanda yang masuk ke Ambon sejak 1580. Nama Wawane pada masjid ini kemudian dirubah menjadi Masjid Wapauwe. Nama ini mengandung arti masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada 1895, Masjid Wapauwe Ambon ini kembali direnovasi dengan menambahkan serambi berukuran 6,35×4,75 m di bagian timur. Hingga berusia 598 tahun, masjid ini masih mempertahankan arsitektur asli bangunannya. Konstruksi masjid ini sangat sederhana, berbentuk persegi dengan bangunan induk berukuran 10×10 m.

Meskipun terbilang kecil dan sederhana, Masjid Wapauwe Ambon ini  sangat unik. Konstruksinya dirancang tanpa menggunakan paku. Dinding masjid terbuat dari gaba-gaba dari pelepah sagu yang dikeringkan. Sedangkan daun rumbia dimanfaatkan sebagai atap masjid.

Bangunan bersejarah Masjid Wapauwe Ambon ini juga masih menyjmpan dengan baik Mus’haf AI-Qur’an yang ditulis tangan oleh Muhammad Arikulapessy, imam pertama di masjid ini. la berhasil merampungkan penulisan mus’haf tersebut pada tahun 1550. Mus’haf selanjutnya ditulis cucu Arikulapessy bernama Nur Cahya, pada 1590.

Peninggalan Nur Cahya lainnya di masjid ini adalah Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ada pula sekumpulan naskah khotbah Jumat pertama Ramadhan pada 1661 masehi, juga kalender Islam 1407 masehi. Selain itu, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang berusia ratusan tahun juga masih terawat baik di Masjid Wapauwe Ambon ini.

Wisata Indonesia: Masjid Raya Medan

Wisata Indonesia: Masjid Raya Medan

Masjid megah kebanggaan warga Medan ini didirikan pada 1906 oleh Sultan Ma’mon Al-Rasyid Perkasa Alam dari Kerajaan Melayu Deli. Dibutuhkan sekitar tiga tahun untuk merampungkan pengerjaan masjid raya medan yang dibangun di atas lahan seluas 18 ribu meter persegi itu.

Meski telah berusia 106 tahun, Masjid Raya Medan masih terlihat gagah dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India, dan Eropa. Perkawin di ketiga unsur arsitektur tersebut bisa dilihat pada bentuk kubah, menara, pilar utama, hingga ornamen kaligrafi yang menghiasi.

Masjid Raya Medan ini berbentuk bundar segi delapan dengan empat serambi utama, yang sekaligus menjadi pintu masuk utama. Uniknya, antara serambi satu dengan lainnya, dihubungkan oleh selasar kecil yang melindungi ruang utama. Masuk ke bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,7 m yang menjulang tinggi. Pilar-pilar inilah yang menjadi penyangga kubah utama pada bagian tengah masjid. Sedangkan empat kubah lainnya terpajang manis di atas keempat serambinya.

Keberadaan masjid raya medan ini disempurnakan dengan ukiran cantik pada kayu merbau yang terdapat pada mimbar, keempat pintu utamanya, dan delapan buah jendela serambi. Sentuhan ukiran dan ornamen khas Melayu Deli juga terlihat pada setiap sudut bangunan, yang menambah unsur sakral pada masjid tersebut.

Setiap Ramadhan, suasana bangunan bernama Masjid AI-Mashun ini selalu disesaki para jarnaah. Masjid ini tidak pernah kehabisan kegiatan, mulai dari kegiatan muzakarah, diskusi tentang hukum sya’riah Islam, ceramah Ramadhan, dan lainnya. Sedangkan, pada malam hari akan diisi dengan tarawih dan tadarrus AI-Qur’an hingga saat sahur tiba .

Satu lagi yang tidak kalah unik tentang keberadaan masjid ini dikala Ramadhan adalah indahnya berbagi dengan sesama. Setiap tahunnya, pengurus masjid menyiapkan makanan berbuka puasa setidaknya bagi 300 hingga 500 orang. Biasanya jama’ah yang datang adalah anak yatim, tunawisma, hingga musafir.